Sunday, 11 December 2016

Hanya Dengan Ilmu

"Setiap masalah yang menimpa manusia semuanya di sebabkan kelalaian mereka terhadap ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dan kejahilan mereka akan agama ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala. Dan semua itu tidak akan selesai, kecuali dengan cahaya ilmu dan selalu ingat kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala."

- Al Allamah Al ArifBillah Sayyidil Habib Umar Bin Muhammad Bin Salim Bin Hafidz -

Saturday, 10 December 2016

Buku Membuat Anak Gila Membaca

Kapan kita mulai dapat mengajarkan membaca kepada anak? 

Para ahli menyebutkan, usia 2 tahun dalam bentuk pengenalan kegiatan pra-membaca. Tetapi Jim Trelease menunjukkan dalam bukunya yang bertajuk The Read Aloud Handbook bahwa mengenalkan membaca kepada anak dapat dimulai semenjak anak mulai mampu mengikuti gerakan kita dengan penglihatannya. Ini sekitar usia 4 bulan.

Kami sendiri mengenalkan membaca kepada anak-anak kami pada rentang usia yang berbeda-beda. Tetapi semuanya dimulai semenjak dini, jauh sebelum usia 2 tahun. Banyak pelajaran yang dapat saya petik dari ketujuh anak saya. Mengenalkan kegiatan pra-membaca itu sangat penting. Tapi itu saja tidak cukup. Tumbuhnya minat baca yang kuat juga tidak cukup. Minat baca yang kuat tidak dengan sendirinya sama dengan minat belajar. Keduanya berbeda. Tetapi jika minat membaca terarah dengan baik, lebih mudah menumbuhkan minat belajar. Wallahu a’lam bish-shawab.

Apa yang Perlu Kita Ajarkan?
Yang paling mudah adalah mengajarkan keterampilan. Lihatlah HP dan smartphone, betapa mudahnya orang menggunakan keduanya. Tak peduli apa jenjang pendidikannya. Makin kompleks sebuah keterampilan, makin sulit menumbuhkannya. Tetapi tetap lebih mudah dibandingkan menumbuhkan minat dan kecintaan. Demikian pula membaca. Betapa banyak anak yang sudah terampil membaca sebelum masuk SD, tapi saat kelas 1 atau 4, minat bacanya ambruk dan gairah belajarnya runtuh.

Orang yang berminat akan berusaha untuk menguasai, yang mau akan berusaha untuk mampu, tetapi yang mampu belum tentu mau. Bahkan besarnya kemampuan yang tidak disertai kemauan, justru menjadikan anak lebih mudah mengalami kejenuhan. Ia menjauhi, sehingga lebih sulit baginya mengembangkan kemampuan.

Maka, yang paling pokok untuk kita lakukan saat anak usia dini adalah mengakrabkan, menjadikan mereka suka dan menanamkan kepada mereka bahwa membaca itu sangat penting serta penuh manfaat. Kita tumbuhkan dorongan kepada mereka untuk senantiasa berusaha membaca dan memperoleh sumber bacaan yang bergizi. Inilah yang jauh lebih penting untuk kita tumbuhkan pada diri anak-anak kita di usia mereka yang sangat dini. Bukan sekadar kemampuan mengeja atau menunjukkan nama-nama benda dalam buku.

Gizi buku juga jauh lebih penting daripada bentuk buku. Kita kadang begitu asyik memilihkan buku yang bagus dan berbentuk lucu, tetapi lupa bahwa isi buku jauh lebih membekas pengaruhnya dibandingkan bentuk buku. Ingatlah, kita mengajari anak membaca bukanlah semata agar mereka terampil membaca. Ada yang lebih penting, yakni menjadikan membaca itu sebagai jalan mereka untuk meraup ilmu dan mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah Allah Ta’ala mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak mereka ketahui dengan perantara pena? Dan jalan untuk mengambilnya adalah membaca. Bukan sekadar membunyikan huruf. Karena itu, kita perlu sekali memperhatikan gizi buku yang kita pilihkan untuk anak-anak, terlebih di usia dini. Inilah masa untuk mengakrabkan mereka dengan tauhid di atas akidah yang lurus ataukah menanamkan syubhat akidah semenjak dini. Alangkah banyak buku yang lucu, tetapi isinya mengajarkan kelicikan, tipu daya dan kesyirikan.

Apa Media Pembelajaran yang Tepat?
Menurut berbagai literatur yang pernah saya pelajari, sarana terbaik untuk mengenalkan membaca kepada anak adalah buku-buku banyak gambar sedikit kata alias WPB (Wordless Picture Book). Ada yang dicetak dengan kertas tebal luks, ada yang menggunakan kain, ada pula yang menggunakan media lain. Berbeda-beda bentuknya, tapi ada satu hal yang mempersamakan, yakni harganya mahal.

Apakah ini tidak baik? Bahkan sangat baik, asalkan isinya bergizi. Sekali lagi, yang perlu diperhatikan adalah kandungan isi buku tersebut (semoga Allah Ta’ala ampuni kelalaian kami dalam memilihkan buku untuk anak-anak). Kami pun menggunakan media semacam itu untuk menumbuhkan minat baca anak-anak, terutama yang awal. Berikutnya, sebagian memanfaatkan sisa-sisa kakaknya, sebagian memanfaatkan apa saja yang dapat dibacakan kepada anak. Tak harus buku WPB. Yang paling pokok adalah gizi buku itu dapat dijamin, dapat dijaga. Buku bacaan untuk orang dewasa pun asalkan isinya penuh gizi, semisal 10 Sahabat Nabi Dijamin Masuk Surga, sangat baik untuk kita bacakan buat merangsang anak kita suka membaca. Mereka paham? Belum. Tetapi apa yang kita bacakan tersebut sangat bermanfaat bagi mereka tatkala semakin bertambah usia. Bacaan itu menjadi semacam cetak biru yang mempengaruhi diri anak di masa-masa berikutnya.

Hal penting yang perlu kita perhatikan adalah antusiasme kita sangat mengajarkannya kepada anak; membacakannya kepada mereka. Antusiasme orangtua dalam mengajarkan membaca jauh lebih penting daripada media yang dipergunakan. Antusiasme kita akan mudah merangsang anak tertarik membaca. Tetapi jika anak sudah sangat bersemangat, bekal berikutnya yang perlu kita miliki adalah sabar.

TV & Online Game: Pembunuh Waktu yang Terhormat
Tidak ada media yang lebih efektif untuk menghancurkan minat baca melebihi kegemaran nonton TV buat anak-anak. Bukan soal tayangannya yang buruk (di Indonesia umumnya disesaki tontonan sangat buruk), tetapi terutama efek shallowing (pendangkalan berpikir) akibat menonton TV (meskipun tayangannya sangat bagus). Shallowing effect ini lebih parah lagi manakala anak-anak sudah tenggelam berinternet atau bermain gadget. Dan yang paling parah adalah ketika anak-anak sudah terjerembab ke dalam bius game online. Banyak akibat mengerikan yang ditimbulkan manakala kecanduan game online. Mereka dapat menghabiskan waktu dan perhatian yang sangat besar dengan bermain game online.

Apakah gadget buruk bagi anak? Tidak, jika diberikan pada saat yang tepat dalam keadaan mereka memiliki kesiapan. Manfaat gadget sangat banyak. Tetapi anak-anak harus memiliki landasan yang memadai sebelum menggunakannya sehari-hari. Selain berkait dengan orientasi hidup, bekal berupa budaya membaca juga sangat besar peranannya.

Setiap yang baik dapat disalahgunakan untuk keburukan, baik yang sangat tampak secara zahir maupun tersembunyi. Itu sebabnya mendidik niat sangat penting, termasuk kepada anak.

* SUARA HIDAYTULLAH-MARET 2015


Tragedi Termarah Anak?

Tragedi termarah anak berulang kali

Bukan sedikit tragedi yang tidak diingini ini berlaku. Malah, ia langsung tidak dipinta oleh ibu bapa. Tetapi ia sering mematikan kreativiti ibu bapa dalam mendidik.

Merawat keadaan ini memerlukan kita membuat refleksi tentang cara kita mengelola emosi .Emosi yang diuruskan secara positif boleh membantu ibu bapa menjadi lebih tenang sekaligus meransang tindakan tindakan positif terhadap anak.


Cuba bayangkan, sekiranya kita membiasakan memarahi yang melampau dan sedikit demi sedikit kita menyumbang kepada pembentukan karekter negatif anak kita apabila mereka dewasa nanti, sudah bersediakah kita untuk menghadapinya?
Mudahkah kita untuk memperbetulkan keadaan?
Manakah yang lebih baik, membentuk tingkahlaku mereka semasa kecil atau memperbaiki tingkahlaku mereka apabila dewasa kelak?

Sungguh, semua ini bukanlah sesuatu yang akan berlaku sekelip mata, tetapi ia PELUANG untuk kita menjadi ibu bapa yang jauh lebih hebat.

Ibu bapa boleh menambahkan ilmu dalam hal-hal yang berkaitan dengan permasalah ini sebagai ikhtiar untuk kita. Hadiri, seminar ceramah, diskusi, dan memperbanyakkan membaca.

Tips-tips mengelola emosi ibu bapa secara positif boleh didapati di dalam buku Screaming Free Parenting yang membahaskan cara mengelola emosi secarapositif oleh trainer parenting.

Dapatkan buku ini untuk pembacaan lanjut.